Kapur Barus, Kini?

0
831

Kapur Barus?

Kapur barus atau kamfer tentunya sudah familiar dengan kehidupan kita. Penggunaan kapur barus telah melewati berbagai masa. Sejarah mencatat, di zaman Nabi Muhammad kapur barus telah dimanfaatkan oleh bangsa Arab. Hadists berikut jadi buktinya:

“Nabi SAW menjumpai kami, ketika kami sedang memandikan putri beliau. Beliau bersabda: Mandikanlah ia tiga kali atau lima kali atau lebih banyak lagi bila menurut kalian hal itu perlu, dengan air dan daun bidara. Dan pada basuhan terakhir bubuhkanlah kapur barus atau sedikit kapur barus…” (Shahih Muslim No. 1557)

Tulisan para ilmuwan Arab abad ke 8-9 M, juga menyebutkan bahwa kapur digunakan juga untuk obat-obatan dan wewangian. Ternyata kapur barus yang digunakan di dunia selama berabad-abad berasal dari sebuah daerah di Indonesia. Tepatnya, daerah Barus salah satu wilayah di Tapanuli Tengah. Sebuah kota pelabuhan kuno yang letaknya dekat dengan kota Sibolga. Barus merupakan satu-satunya kota di nusantara yang tercatat dalam berbagai literatur sejak awal masehi dalam Bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan lain-lain.

 

Sejarah Singkat Kapur Barus

Literatur tertua yang menyebut kamper berasal dari catatan seorang pedagang Cina awal abad ke-4 M, yang menelusuri jalur sutera. Sedangkan di Eropa, catatan tertua tentang kamper berasal dari tulisan seorang dokter Yunani yang tinggal di Mesopotamia, bernama Actius (502-578 M). Kronik Dinasti Liang (502-557 M) di Cina menyebutkan kamper terkait dengan sebuah tempat yang dikenal sebagai kota Barus. Bahkan ada dugaan kalau kapur barus juga dimanfaatkan untuk memumikan jasad para Fir’aun di Mesir. Kalau benar, artinya kapur barus telah digunakan sebelum tahun Masehi.

Kapur Barus dalam bahasa Inggris disebut dengan camphor. Turunan dari kata camphre dalam Bahasa Perancis. Istilah camphor berasal dari Bahasa Sansekerta karpum, atau Bahasa Arab kafur. Kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia menjadi kapur barus yang berarti “The Chalk of Barus.” Kapur barus dahulunya dibuat dari potongan-potongan kayu batang pohon kamfer (Cinnamomum camphora) yang tumbuh berlimpah di daerah Barus. Seiring dengan perkembangan zaman kapur barus tak lagi dibuat dari bahan baku kayu pohon kamfer, tetapi dibuat secara sintesis dari minyak terpentin. Karena ditinggalkan kisah kota Barus dengan pohon kamfernya semakin redup ditelan zaman. Sebagaimana kehadiran pohon kamfer pun menjadi kian langka.

 

 

 

Referensi lain:

Majalah Elfata. 2016. Edisi 05, Vol.16.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.