Abu Dzar: Teladan Dalam Kezuhudan

0
947

Abu Dzar

Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah dan biasa dipanggil dengan sebutan Abu Dzar, ia berasal dari suku Ghifar.

Abu Dzar al Ghifari adalah sahabat Rasulullah SAW yang paling zuhud. Tak ada yang bisa menyamainya dalam kesederhanaannya menempuh kehidupan. Ia adalah orang yang dicintai Rasulullah SAW, seorang penggerak kehidupan sederhana dan bersahaja, selalu menganjurkan untuk tidak mencintai dunia dan harta benda.

Suatu ketika seorang laki-laki bertandang ke rumah Abu Dzar. Orang itu melayangkan pandangan ke setiap sudut rumah. Dia tidak menemukan apa-apa disana. Lantas ia bertanya kepada Abu Dzar, “Hai Abu Dzar! Dimanakah kau simpan barang-barangmu?”. Jawab Abu Dzar, “Kami mempunyai rumah yang lain (di akhirat), barang-barang kami yang bagus telah kami kirimkan kesana.” Orang tersebut memahami maksud Abu Dzar. Lalu dia berkata pula, “Tapi bukankah kamu memerlukan juga barang-barang itu di rumah ini (di dunia)?” “Tapi yang punya rumah (Allah) tidak membolehkan kami tinggal di sini (di dunia) selama-lamanya,” jawab Abu Dzar.

Abu Dzar dikenal sebagai “Maha Guru” dalam mengajarkan prinsip-prinsip hidup sederhana. Ia sering menegur para pembesar pengumpul harta. Ia katakan, “Pemimpin dan pembesar, haruslah yang pertama kali menderita kelaparan sebelum anak buah atau rakyatnya. Sebaliknya, paling belakang menikmati kekenyangan setelah mereka!”

 

Tinggal di Rabadzah

Abu Dzar tinggal di negeri Syam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan RA. Waktu itu gubernur Syam adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA. Mu’awiyah merasa terganggu dengan sikap hidup Abu Dzar, sehingga meminta kepada khalifah Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali.

Abu Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh khalifah, dan dia segera mentaati panggilan itu. Sesampainya di Madinah, segera saja Abu Dzar menghadap khalifah. Abu Dzar diberi tahu oleh khalifah Utsman, bahwa di dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi orang dekatnya. Mendengar penjelasan itu, Abu Dzar menegaskan kepada beliau,

“Wahai Amirul Mukminin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah.”

Maka khalifah Utsman pun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan kepada beliau,

“Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri.”

Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah. Dia ingin mengasingkan diri disana, karena melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan berbagai ungkapan dan pendapatnya.

 

Akhir Hayat Abu Dzar

Menjelang wafatnya, Abu Dzar berkata pada istrinya, “Janganlah menangis. Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah SAW bersama beberapa orang sahabatnya, saya dengar beliau bersabda,

“Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan di saksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman. “Semua yang ada di majelis itu telah meninggal di kampong dan di hadapan jamaah kaum muslimin, tak ada lagi yang masih hidup di antara mereka kecuali aku. Maka perhatikanlah olehmu jalan…siapa tahu kalau-kalau ada rombongan orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi.”

Benarlah, tak lama kemudia lewatlah rombongan yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud. Istri Abu Dzar segera meminta bantuan mereka untuk mengurus jenazah suaminya.

Demikianlah kisah hidup Abu Dzar yang berhiaskan kezuhudan, dan sangat mengutamakan akhirat. Semoga Allah SWT merahmatinya.

 

 

 

Sumber:

Majalah Sakinah. Dzulqa’dah-Dzulhijah 1437 H (15 September-15 Oktober 2016). Vol.15, No.06.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.