Ciri-ciri Organisasi Gerakan yang Rapi

0
863

Syarat mutlak bagi organisasi yang bergerak dalam aktifitas islam adalah mempunyai sistem organisasi yang lengkap dan kepimpinan yang jitu, seluruh aktifitasnya mencerminkan peraturan dan garis-garis yang ditentukan, serta berjalan sesuai program.

Syarat tersebut merupakan syarat utama bagi organisasi atau jamaah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tanpa adanya organisasi yang utuh dan rapi, kecil kemungkinan organisasi tersebut akan mencapai kejayaan dan kegemilangan. Oleh sebab itu, aktifitas organisasi yang kepengurusannya tidak solid/utuh/rapi akan menghasilkan kegiatan-kegiatan yang bersifat individu, walau pun kelihatan seperti sebuah organisasi. Keutuhan organisasi tergantung dari keberhasilan semua anggota dalam mematuhi peraturan yang terdapat di dalam sebuah organisasi.

Dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan kepada tiga orang yang sedang musafir untuk mengangkat salah satunya amir atau ketua. Dalam hadist tersebut jelas menunjukkan kewajiban mengangkat dan melantik seorang pemimpin dalam satu organisasi. Sebab bermusafir saja yang sifatnta sementara kita diwajibkan mengangkat seorang ketua, apalagi dalam sebuah organisasi yang lebih besar yang bergerak di bidang dakwah, dimana sebagian usahanya adalah mengubah pemikiran masyarakat yang diracuni pemikiran jahiliyah.

Tujuan pengangkatan seorang ketua atau amir dalam satu organisasi bukan semata-mata sebagai lambing, tetapi bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi dan mempermudah jamaah dalam bergerak dan bertindak melakukan aktifitas islami.

Oleh karena itu, syariat islam telah menetapkan agar semua anggota taat dan patuh pada pimpinannya. Gerakan islam akan rusak jika pimpinan organisasi sudah dipatuhi oleh anggotanya.

Perlu diketahui bahwa kepatuhan terhadap pemimpin yang konsisten pada islam adalah sebagai kepatuhan kepada Allah. Oleh karena itu, hukum syarak telah mengaitkan kepatuhan ini hanya pada yang ma’aruf (yang baik menurut islam) saja. Jika seorang pemimpin menganjurkan pada hal-hal yang batil dan maksiat maka perintahnya tidak wajib ditaati. Kemaksiatan yang tidak boleh dipatuhi adalah kemaksiatan yang telah disepakati ulama atau yang ada nas nya. Dalam hal ini kesalahan dalam berijtihad tidak termasuk dalal kategori tersebut.

Sebagai manifestasi ciri-ciri pengorganisasian yang paling jelas dan perlu mendapat perhatian, adalah melalui dasar-dasar berikut:

  • Bekerja keras, serius, gigih, dan potensial dalam menjalankan tugas gerakan (harakah)
  • Pengurusan yang rapi dan sistematik, serta disiplin yang tinggi ala ketentaraan
  • Petunjuk pelaksanaan kerja yang jelas
  • Pembagian tanggung jawab yang jelas bagi masing-masing pimpinan
  • Menentukan system komunikasi anggota dan pimpinan yang bertanggung jawab di peringkat kepemimpinan masing-masing
  • Komitmen penuh dengan apa yang telah ditetapkan oleh jamaah melalui pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadapnya

Ukuran minimum yang harus diwujudkan di dalam gerakan islam ialah terwujudnya suatu disiplin ketentaraan dalam pengurusan, ketentaraan ketika berada di medan pertempuran atau sekurang-kurangnya seperti pengurusan ketentaraan dalam keadaan damai.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam angkatan bersenjata mempunyai disiplin tinggi yang ketat, pembagian tugas yang jelas, pembatasan tanggung jawab yang jelas, menentukan orang-orang yang bertanggung jawab dalam tugas-tugas tertentu, mengariskan hubungan dengan pihak atasan, dan kepatuhan pada komandannya.

Segala pengarahan dan perintah panglima dalam organisasi angkatan bersenjata selalu dipatuhi oleh bawahannya. Demikian pula seharusnya pengorganisasian dalam organisasi islam, hanya dalam organisasi islam memiliki ciri-ciri yang lebih baik dari disiplin ketenteraan yaitu:

  1. Organisasi gerakan islam ditegakkan di atas nilai keagamaan yaitu semata-mata karena mematuhi perintah Allah.
  2. Kepatuhan dan kesetiaan dalam gerakan islam terpancar dari dalam diri anggota-anggota sendiri, tidak ada paksaan dan tekanan dari luar.
  3. Hakikat kepemimpinan organisasi gerakan bukan bertujuan untuk kepentingan pihak pimpinan, tetapi semata-mata untuk kepentingan islam.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, maka tidak wajar mengganggap sikap tegas dan keras seorang pimpinan dalam mengendalikan jamaah islam di salah tafsirkan sebagai dictator, tangan besi, atau menyalahgunakan kekuasaan. Padahal ketegasan tersebut sebaiknya dipandang sebagai manifestasi keghairahan pucuk pimpinan dalam mengawasi kegiatan anggota-anggotanya agar di atas landasan yang benar, dan mendapat pahala, sama halnya dengan imam sholat yang menyukai orang menjadi makmum supaya mereka mendapat pahala berjemaah.

Demikian pula halnya ketegasan seorang panglima tentera islam di medan jihad dalam mengatur strategi, menyusun posisi pasukannya. Panglima selalu mengawasi roda dan mekanisme pengurusan ketenteraannya agar berjalan lancar, mengeluarkan berbagai arahan dan perintah untuk dilaksanakan. Ini bertujuan agar jihad dapat memperoleh kemenangan dunia dan mendapat pahala akhirat.

Atas dasar pengertian tersebut, maka sebagai gerakan islam, seharusnya para anggota tidak tersinggung kehormatannya apabila mereka mendapat pengarahan-pengarahan dari pimpinannya, dan tidak boleh merasa tidak senang atau keberatan atau sengaja menyalahi segala pengarahan tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka harus menerima segala perintah dan pengarahan tersebut dengan senang hati, penuh kepercayaan dan melaksanakan dengan secepat mungkin, kerana melaksanakan perintah dan arahan tersebut termasuk ke dalam kerangka taat dalam pengertian syar’i.

Jika semua pihak, baik pucuk pimpinan ataupun anggota gerakan mengambil bagian dan menjalankan peranan masing-masing. Insya Allah semuanya akan mendapat pahala.

 

 

Sumber:

Syaikh Mustafa Masyhur. Amal Jama’i (Gerakan Bersama). Pustaka Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.