Cara Rasulullah Memandirikan Umat

0
686

Suatu hari, seorang pengemis dari kaum Anshar, penduduk Madinah mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta-minta. Rasulullah tak langsung memberi melainkan bertanya kepada pengemis itu, “Apakah kau memiliki sesuatu di rumahmu?”

Dijawab oleh pengemis itu, “Ada, ya Rasulullah. Aku memiliki pakaian dan sebuah cangkir”. Rasul pun memintanya untuk membawa barang yang disebutkan. Sesampainya pengemis itu dari rumahnya, Rasul mengumpulkan para sahabat.

“Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” tanya Rasulullah sembari menunjukkan pakaian dan cangkir milik pengemis.

Segera, ada sahutan dari salah seorang sahabat beliau, “Aku sanggup membelinya seharga satu dirham. “Sang Nabi melanjutkan, “Adakah yang ingin membayar lebih?” Ternyata, Rasulullah melelang dua harta milik pengemis itu.

Dijawablah oleh sahabat lain, “Aku mau membelinya seharga dua dirham, ya Nabiyullah.” Maka sahabat inilah yang berhak memiliki pakaian dan cangkir milik pengemis.

Rasulullah pun memberikan hasil penjualan kepada pengemis sembari berpesan. Kata Nabi, belilah kebutuhan untuk keluargamu dengan uang ini. Sebagiannya yang lain untuk membeli kapak. Rasul juga memerintahkan pengemis itu kembali kepada beliau setelah membeli kapak.

Setelah menyerahkan makanan kepada anak dan istrinya, pengemis itu menemui Rasulullah sambil membawa kapak, sesuai yang diperintahkan. Nabi bersabda, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah.”

Dua pekan kemudian, sosok yang semulanya berprofesi sebagai pengemis itu mendatangi Nabi. Dari hasil mencari kayu, ia memiliki uang sebanyak 10 dirham.

Rasul pun bersabda, “Hal ini lebih baik bagimu. Karena meminta-minta hanya membuat noda di wajahmu, kelak di akhirat.”

Beliau menjelaskan, tak layak menjadi peminta-minta kecuali bagi tiga orang. Pertama, fakir miskin yang benar-benar tidak memiliki sesuatu. Kedua, orang yang memiliki utang dan tidak bisa membayarnya. Ketiga, orang yang berpenyakit sehingga tak mampu berusaha.

Demikianlah cara Rasulullah SAW dalam mengentaskan kemiskinan. Beliau tidak memberi ikan, melainkan kail. Jika hanya diberi ikan, maka ia akan habis dalam hitungan waktu. Namun, ketika kail yang diberikan, orang itu bisa mencari sebanyak mungkin ikan untuk dimanfaatkan.

 

 

Sumber:

Majalah Swadaya DT Peduli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.